Permintaan Batik Turun 50 Persen

120

BISNIS batik saat tengah lesu dan turun hingga 50 persen. Hal ini disampaikan Alfi, pemilik butik Yogaya di bilangan pasar Kreneng, Denpasar kepada Bisnis Bali.

Perlambatan ekonomi ternyata berdampak besar pada bisnis batik. “Sebelum ekonomi melemah permintaan cukup tinggi, di mana per hari bisa terjual hingga 40 pc baju batik. Tapi sekarang paling-paling laku 10 hingga 20 pc saja,” katanya. Padahal berbagai kiat penjualan telah dilakukan, mulai dari pemberian diskon hingga mengeluarkan model- model baru.

Ditanya apakah ini karena adanya persaingan dengan baju endek, Alfi mengatakan, persaingan itu bisa dan tidak berdampak besar. “Pelanggan pasti ingin memiliki keduanya, baik batik maupun endek, jadi persaingan ini tidak berdampak besar bagi penjualan,” tandasnya.

Faktor doominan yang mempengaruhinya adalah, kondisi perekonomian. Jadi, orang- orang lebih berhati-hati membelanjakan uangnya. “Kalau biasanya pelanggan sekali belanja bisa membeli 2 atau 3 pcs, sekarang hanya beli 1 pcs,” imbuhnya. Padahal dari segi harga pihaknya menawarkan harga yang cukup bersaing dengan kualitas produk yang dijamin bagus.

Kemeja cowok harga rata-rata Rp 125 ribu, untuk dress wanita harga rata-rata Rp 130 ribuan sedangkan untuk batik couple (pasangan) harga mulai Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribuan. Batik anak – anak harga mulai Rp 70 ribu.

Dari segi permintaan kalangan remaja lebih memilih model yang terkesan santai, sedangkan orang dewasa memilih model yang lebih formal. ( pur)

BAGIKAN