Relaksasi KPR Inden dan LTV Menggeliatkan Pasar Properti?

94
MENUNGGU - Kelesuan pasar properti menyebabkan pemodal menunggu saat tepat untuk berinvestasi

Selain relaksasi kredit pemilikan rumah (KPR) inden, ketentuan loan to value (LTV) tentang besaran uang muka/down payment (DP) juga diharapkan pelaku bisnis properti. Bagaimana realitanya?

BISNIS properti merupakan salah satu sektor yang memiliki imbas besar terhadap perekonomian baik dalam skup daerah maupun nasional. Sektor ikutannya yang begitu banyak sangat terdongkrak dalam penjualan produk maupun pemanfaatan jasa ketika sektor properti berkembang pesat. Perlambatan ekonomi 2015 yang membawa dampak ikutan hingga 2016 yakni masih lesunya penjualan produk properti, patut mendapatkan perhatian pemerintah dalam hal ini otoritas terkait sehingga mampu menyediakan solusi minimal relaksasi terhadap beberapa aturan main sektor properti yang dipandang saat ini relevan untuk dilonggarkan. Fenomena di lapangan penjualan rumah dengan aksi banting harga produk properti oleh pengembang cukup sudah untuk menarik minat beli pasar. Retorikanya belum juga menunjukkan tanda-tanda membaik. Tak hanya karena segmen atas yang lebih hati-hati membelanjakan uang mereka untuk investasi properti, segmen menengah bawah pun masih ragu karena belum kuatnya daya beli mereka. Ketika relaksasi mulai ada, mereka tetap akan kesulitan untuk bisa berinvestasi baik untuk pembelian rumah kedua atau seterusnya karena pendapatan mereka belum naik. – Selengkapnya Baca Koran Harian Bisnis Bali  (gun)

BAGIKAN