Tanaman Tumpang Sari Nilam Mudah Dibudidayakan dan Bernilai Ekonomi Tinggi  

586
BIBIT NILAM : Tanaman nilam memiliki peluang ekonomi tinggi, maka itu banyak petani yang berminat membudidayakan. Terlihat bibit nilam dalam mobil dan siap diantar ke petani untuk ditanam.

Bangli (Bisnis Bali) – Tanaman nilam sangat mudah dibudidayakan. Mulai dari pembibitan menggunakan sistem stek, kemudian penanamannya juga sangat mudah. Di samping itu, persiapan lahan juga mudah dan memberikan pupuk sekali sebelum penanaman, serta 2 bulan berikutnya dengan pupuk cair.

‘’Tanaman nilam mudah hidup, asal ditanam diketinggian 700 sampai 800 meter di atas permukaan laut,’’ ujar I Nyoman Wiguna, salah seorang petani Nilam, di Desa Pengiangan, Susut, Bangli, belum lama ini.

Lanjutnya, Nilam ditanam pada sela tanaman pokok pun tetap mudah hidup dengan kualitas bagus. ‘’Permintaan pasar sekarang ini juga sangat tinggi. Pasalnya ada satu perusahaan asing yang sebelumnya sudah belasan tahun bergerak di bisnis rempah-rempah, saat ini membutuhkan daun nilam sebanyak-banyaknya,’’ jelasnya.

Katanya, budi daya nilam sangat mudah, sedangkan hasilnya cukup menarik. Karena ada perusahaan yang dapat menampung produksi dan harga sesuai kontrak, sehingga petani tidak perlu khawatir. ‘’Seperti pernah terjadi sekitar 8 atau 10 tahun sebelumnya. Di mana banyak petani di Bali membudidayakan tanaman nilam, hanya panen pertama saja ada yang membeli. Selanjutnya petani sulit memasarkan produksinya,’’ katanya.

Lanjutnya, tetapi sekarang ini, ada perusahaan yang berani kontrak dengan petani. ‘’Selain dalam perjanjian siap membeli Nilam, juga harga sudah ditentukan dan cukup menarik,” tegas Wiguna sambil menyebutkan sekarang sudah banyak petani yang membudidayakan tanaman nilam.

Petani nilam lainnya, Sang Made Roji juga menyebutkan, budidaya tanaman nilam sangat mudah. Tidak diperlukan perawatan khusus. Jika hal tersebut dilakukan petani, maka hasilnya sangat maksimal. ‘’Bila dibandingkan dengan budi daya tanaman lain, nilam lebih memiliki nilai ekonomi,’’ katanya. Hal tersebut juga diakui petani nilam lainnya asal Dusun Bon, Beloksidan, Badung, I Made Sukarta. Diakui budi daya nilam sangat mudah. Selain favorit sebagai tanaman sela (tumpang sari), jika dibudidayakan di dalam lahan yang luas dengan jarak tanam satu sama lainnya 80 cm x 80 cm. Maka dari itu, dalam hitungan satu are lahan dapat ditanami kurang lebih 150 pohon. Artinya, dalam hitungan 1 hektar dapat ditanami 15.000 pohon nilam. ”Maka dalam hitungan 4 bulan sekali atau panen, lahan seluas 1 hektar menghasilkan penjualan Rp 22.500.000. Jika harga kontrak perusahaan penampung daun nilam membeli Rp 1.500 per kg dengan asumsi satu pohon nilam tiap panen menghasilkan daun 1 kg,” jelas Sukarta sambil menyebutkan dengan potensi nilam bernilai ekonomi tinggi saat ini, mudah mengajak petani di desanya yang mayoritas sudah berusia tua.

Perwakilan lapangan perusahaan yang menampung daun nilam basah, Wayan Lasia menambahkan, perusahaan membutuhkan nilam sebanyak-banyaknya. Untuk itu, pihaknya terus mengembangkan tanaman nilam dengan memberikan bibit gratis dan ada uang pengolahan lahan per pohon Rp 500 (hanya sekali tiap petani). Kemudian, tanaman nilam sangat mudah dibudidayakan. Pembuatan bibit sangat mudah, dengan sistem stek sudah dapat hidup dengan baik.

”Program budi daya tanaman nilam ini dimulai April 2015 lalu. Panen pertama membutuhkan waktu 7- 8 bulan, kemudian panen kedua dan seterusnya hanya butuh waktu 3-4 bulan (tergantung cuaca). Sampai saat ini sudah ada lebih dari 6 hektar yang dibudidayakan di Kabupaten Badung Utara dan Kabupaten Bangli. Kami akan terus kembangkan lagi,” terangnya sambil mengajak masyarakat untuk ikut bertani Nilam. (sta)