Menjadi Petani Cantik Tren di Kalangan Ibu-ibu

142

Denpasar (Bisnis Bali) – Tren di kalangan ibu rumah tangga saat ini adalah mengembangkan pertanian di lahan yang sempit. Menjadi petani cantik, seperti itulah para sosialita menyebutnya. Istilah ini tampaknya cukup membanggakan bagi kalangan ibu-ibu.

Bertani di lahan sempit, dengan memanfaatkan pekarangan rumah, beragam jenis sayuran dapat ditanam. Hal itu diungkapkan Kepala Stasiun Percobaan dan Inkubator Fakultas Pertanian Unwar, Ir. Ketut Agung Sudewa, M.Si.

Lanjutnya, untuk menanam sayur-mayur di pekarangan rumah, ibu-ibu tidak perlu meluangkan banyak waktu. “Cukup seminggu sekali untuk memberikan pupuk, tanaman pasti menghasilkan,” katanya.

Dengan menanam sendiri sayuran di pekarangan, ibu-ibu dapat memastikan sayuran yang dimasak sehat dan bebas dari pestisida. Karena saat ini kesadaran masyarakat akan memilih sayuran tanpa pestisida mulai ditinggalkan, sehingga menanam sayuran sendiri dapat menjadi solusi, di samping dapat menghemat biaya rumah tangga.

“Bila tidak memiliki pekarangan pun, tetap dapat menanam sayur-mayur dengan menggunakan polybag,” katanya. Sayuran yang bisa ditanam di polybag dan dapat bertahan hingga tahunan, seperti bayam petik, terong, tomat dan cabe. Selain itu sayuran yang belakangan mulai banyak peminatnya  yaitu sawi hijau dan pokcay.

Ditambahkan, dengan menanam 5 pohon tiap jenis sayuran, sudah dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

“Untuk mendapatkan bibit sayuran berupa biji sangat mudah dan sudah tersedia untuk rumah tangga dalam jumlah kecil,” katanya. Harga satu sacet berkisar Rp 10-15 ribu, itu pun sudah ratusan biji yang dapat ditanam beberapa kali. Bila takut gagal, ada juga yang menjual bibit siap produksi dalam polybag, dengan harga Rp 10 ribu per polybag. (pur)