06 Maret 2010     
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Dinilai Ulah Spekulan * Harga Jual Vanili terus Merosot

Bali menjadi salah satu daerah penghasil vanili dengan kualitas baik dan diminati pasar ekspor. Sayangnya, itu tidak dibarengi dengan harga jual yang menguntungkan di tingkat petani. Adakah ini akibat ulah spekulan? Berikut laporannya.

VANILI menjadi andalan petani di Bali beberapa tahun lalu. Itu seiring dengan harga jual kala itu yang menyentuh Rp 100.000 per kg untuk kualitas vanili basah.

Itu pula membuat petani berlomba-lomba memperbaiki kualitas produksi dan menjaga tanaman vanili itu melalui perawatan dengan berbagai hal.

Namun sayangnya, hal itu tidak terjadi lagi. Lantaran harga jual vanili tidak lagi sebaik dulu, petani vanili di sejumlah sentra produksi di Bali akhirnya menebang tanamannya.

I Wayan Merta, Sos., M.M., pebisnis agro dari Kintamani Bangli ini mengungkapkan, sejak setahun belakangan ini harga vanili di dalam negeri sangat lesu.

Harga jual kualitas panen vanili basah yang menjadi mayoritas produksi petani hanya mencapai Rp 8.000 per kg, bahkan sempat menginjak angka Rp 5.000 per kg dengan kualitas sama.

Kondisi tersebut, menurutnya, memang sangat tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk masa perawatan tanaman agar bisa berproduksi baik.

Anjloknya harga jual vanili di dalam negeri ini, menurutnya, erat kaitannya dengan permainan harga yang dilakukan spekulan atau pengepul besar. Sinyalemen tersebut berpatokan pada komoditi vanili yang sebenarnya sangat diminati dalam jumlah yang cukup besar oleh eksportir. Seberapa pun produksi yang ada akan terserap habis oleh pasar saat ini.

Jika permintaan pasar ekspor vanili cukup besar, sangat tidak masuk akal jika tidak dibarengi dengan baiknya harga jual vanili di dalam negeri. Sebab, jika kualitas yang menjadi alasan bagi lesunya harga jual vanili ini, menurutnya, sangat tidak masuk akal karena kualitas vanili produksi lokal ini cukup baik dan bersaing dengan kualitas Madagaskar.

”Saya melihat ada indikasi spekulan ini membeli vanili petani lokal ini dengan harga yang murah, kemudian dijual kembali ke pasar ekspor dengan harga mahal,” ujarnya.

Sementara itu, daerah sentra produksi vanili di Bali yang telah menebang atau mengalihfungsikan lahannya menjadi perkebunan komoditi lain di antaranya daerah produksi vanili di Belok Sidan, Tembuku, Kintamani, Payangan, Busungbiu, Seririt dan Jembrana.

Tambahnya, khusus di daerah Kintamani, perkebunan vanili ini ada yang dialihfungsikan menjadi perkebunan jeruk, dan di daerah lainnya dikembangkan berbagai komoditi yang sekiranya sesuai kondisi lahan dan memiliki nilai jual menguntungkan lebih baik dibandingkan vanili. * man

    LESU - Pangsa pasar ekspor vanili Bali tertuju ke Amerika Serikat dengan jumlah volume tak terhingga. Namun, kini harganya lesu dan kebutuhan pasar ekspor pun terancam.

 


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost