Jakarta (BisnisBali) – Menko Perekonomian Sri
Mulyani Indrawati menilai investor domestik mulai memiliki
kepribadian sehingga tidak ikut-ikutan panik ketika terjadi
krisis global di pasar uang dan pasar modal.
"Dampak psikologis memang ada, tetapi investor domestik
mulai punya kepribadian. Ngapain ikut-ikutan redemp wong perusahaan
ada di sini, produksi di sini, jualan di sini dan masih strong,"
kata Sri Mulyani yang juga Menteri Keuangan di Jakarta, beberapa
hari lalu.
Ia menilai pasar modal dan pasar uang Indonesia memang menerima
dampak krisis keuangan dunia, namun tidak separah yang dihadapi
oleh negara-negara lain.
"Mungkin stock (pasar modal) mengalami masalah yang ditunjukkan
dengan turunnya indeks, tetapi tidak separah negara lain seperti
Rusia dan Korsel," katanya.
Menurut dia, kemungkinan ada blessing (berkah) dari agak lambatnya
recovery (pemulihan) ekonomi setelah krisis 1997/1998 sehingga
Indonesia tidak menerima dampak parah dari krisis global.
"Exposure risiko Indonesia menjadi tidak terlalu banyak
sehingga Indonesia justru asyik dengan momentum growth-nya,"
kata Sri Mulyani. Meskipun tidak separah negara lain, pemerintah
dan Bank Indonesia (BI) tetap waspada mengantisipasi kemungkinan
dampak di masa yang akan datang.
"Kalau suasana global di capital market dan money market
tidak stabil, maka sebaiknya exposure risiko diperkecil sehingga
akan meminimalkan dampak buruknya," katanya.
Menanggapi ketatnya likuiditas di pasar saat ini, Sri Mulyani
mengatakan, perbankan tak perlu "saling injak" menghadapi
situasi tersebut. "Kami selalu koordinasi dengan BI agar
bank tenang, tak ada gunanya saling injak, malah akan banyak
mudlaratnya.
Jangan sampai bank karena belum cukup likuiditasnya, ngincer-ngincer
nasabahnya dengan menawarkan bunga yang tak rasional, itu
akan membuat distorsi market," katanya.
Menurut dia, BI akan selalu mengatur masalah likuiditas sehingga
mencukupi untuk perekonomian Indonesia. Ia menyebutkan, jika
diperlukan pemerintah dapat menempatkan dananya di bank komersial
untuk mengatasi masalah ketatnya likuiditas itu.
"Kalau pemerintah mau placement di bank selalu konsultasi
dengan BI karena urusan likuiditas, lembaga itu yang mengatur,"
kata Sri Mulyani. *ant