22 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

Menkeu: Investor Domestik mulai Miliki Kepribadian
Jakarta (BisnisBali) – Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menilai investor domestik mulai memiliki kepribadian sehingga tidak ikut-ikutan panik ketika terjadi krisis global di pasar uang dan pasar modal.

"Dampak psikologis memang ada, tetapi investor domestik mulai punya kepribadian. Ngapain ikut-ikutan redemp wong perusahaan ada di sini, produksi di sini, jualan di sini dan masih strong," kata Sri Mulyani yang juga Menteri Keuangan di Jakarta, beberapa hari lalu.

Ia menilai pasar modal dan pasar uang Indonesia memang menerima dampak krisis keuangan dunia, namun tidak separah yang dihadapi oleh negara-negara lain.

"Mungkin stock (pasar modal) mengalami masalah yang ditunjukkan dengan turunnya indeks, tetapi tidak separah negara lain seperti Rusia dan Korsel," katanya.

Menurut dia, kemungkinan ada blessing (berkah) dari agak lambatnya recovery (pemulihan) ekonomi setelah krisis 1997/1998 sehingga Indonesia tidak menerima dampak parah dari krisis global.

"Exposure risiko Indonesia menjadi tidak terlalu banyak sehingga Indonesia justru asyik dengan momentum growth-nya," kata Sri Mulyani. Meskipun tidak separah negara lain, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tetap waspada mengantisipasi kemungkinan dampak di masa yang akan datang.

"Kalau suasana global di capital market dan money market tidak stabil, maka sebaiknya exposure risiko diperkecil sehingga akan meminimalkan dampak buruknya," katanya.

Menanggapi ketatnya likuiditas di pasar saat ini, Sri Mulyani mengatakan, perbankan tak perlu "saling injak" menghadapi situasi tersebut. "Kami selalu koordinasi dengan BI agar bank tenang, tak ada gunanya saling injak, malah akan banyak mudlaratnya.

Jangan sampai bank karena belum cukup likuiditasnya, ngincer-ngincer nasabahnya dengan menawarkan bunga yang tak rasional, itu akan membuat distorsi market," katanya.

Menurut dia, BI akan selalu mengatur masalah likuiditas sehingga mencukupi untuk perekonomian Indonesia. Ia menyebutkan, jika diperlukan pemerintah dapat menempatkan dananya di bank komersial untuk mengatasi masalah ketatnya likuiditas itu.

"Kalau pemerintah mau placement di bank selalu konsultasi dengan BI karena urusan likuiditas, lembaga itu yang mengatur," kata Sri Mulyani. *ant

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost