22 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Boga
Masih Ditemukan, Zat-zat Berbahaya pada Makanan " Sengaja atau tak Tahu?
Makanan maupun minuman yang beredar di pasaran, tidak sedikit yang masih mengandung zat yang dapat membahayakan tubuh manusia, seperti zat pewarna tekstil, pemanis buatan, formalin, boraks dan bahan berbahaya lainnya. Kenapa bisa terjadi?

Sengajakah atau betul-betul karena tidak tahu? Berikut penelusuran BisnisBali.

SEJATINYA dinas terkait seperti BBPOM, Dinas Kesehatan, Disperindag sudah rutin melakukan sidak, pengawasan, dan pembinaan terhadap industri rumah tangga (IRT). Namun, makanan dengan zat berbahaya tetap saja ditemukan di masyarakat.

Karenanya, warga yang gemar jajan makanan maupun minuman, mungkin perlu berhati-hati dan waspada dalam mengkonsumsi penganan yang dibeli dari pengusaha kecil maupun menengah, terutama jajanan yang biasa dijajakan di pinggir jalan maupun jajanan anak sekolah. Tidak menutup kemungkinan, makanan tersebut masih mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya.

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan BBPOM Bali terhadap 168 sampel jajanan sekolah pada 2007, 60 produk makanan masih mengandung BTP seperti rodamin B (pewarna merah), zat warna yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya.

Tidak hanya itu, pada sampel makanan tersebut juga ditemukan borak pada mi dan snack (bakwan, tahu isi, camilan), formalin pada bakso dan terbanyak adalah bakteri ALT, dan MPN coliform.

Berdasarkan pengujian terhadap 159 sampel jajanan sekolah hingga Juli 2008, kendati tidak menemukan BTP, tetap saja 38 produk masih mengandung bakteri. Ini membuktikan makanan yang beredar di pasaran belum layak konsumsi.

Bahaya Besar
Masih beredarnya panganan mengandung zat berbahaya di masyarakat, merupakan potensi bahaya besar bagi kesehatan masyarakat. Ini bisa berdampak pada gangguan pertumbuhan generasi muda akibat penumpukan zat berbahaya dalam tubuhnya yang bertentangan dengan PP No.28 tahun 2004 tentang keamanan mutu dan gizi pangan. Secara ekonomis, hal ini juga sangat merugikan kemampuan daya saing pelaku usaha itu sendiri.

Tidak ditemukannya BTP dalam sampel makanan yang diuji, bukan berarti penggunaan BTP benar-benar tidak dilakukan IRT nakal. Makanan dan minuman dengan warna cerah, cita rasa kuat MSG, dapat bertahan lama masih banyak kita temui di pasaran. Bedanya praktik penipuan ini lebih rapi dilakukan sehingga sangat sulit membedakannya.

Seperti diakui Jemy Selfiana, FBM salah satu restoran di Sanur. Penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih ada yang menggunakan. Misalnya, warna merah sumba pada insang ikan agar terlihat segar, warna merah pada semangka agar terlihat menarik, warna merah pada daging hingga pewarna pada jajanan maupun minuman pasar yang cerah dan menggugah selera.

Tidak hanya, ada pula penggunaan pemanis buatan agar buah terasa manis. “Secara sepintas memang sulit membedakan, tetapi diperhatikan secara seksama akan terlihat perbedaan tersebut,” paparnya.

Masih adanya BTP pada makanan juga diakui Kadis Kesehatan Denpasar dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes. Masih relatif rendahnya pengetahuan para pelaku usaha kecil dan menengah terhadap kesehatan makanan, menyebabkan produk yang dihasilkan rentan tercemar bakteri, dan produk yang beredar di masyarakat pun kerap ada yang mengandung bahan berbahaya seperti zat pewarna tekstil, pemanis buatan, formalin, boraks dan bahan berbahaya lainnya.

Guna membatasi pemakaian zat pewarna dengan mempersulit pembeliannya juga dirasakan sulit, karena zat pewarna tersebut sangat mudah diperoleh di pasaran.

Belum lagi sentra pembuatan makanan dan minuman tersebut tidak pernah menetap, jadi satu dengan rumah kos-kosan, terpencil dari rumah penduduk, tidak memiliki izin, sehingga sulit bagi petugas sanitasi maupun puskesmas untuk melakukan sidak, pengawasan maupun pembinaan.

Solusinya, kata Armini, adalah dengan memberikan stiker kepada para pedagang bahwa barang dagangannya telah bebas dari kandung zat berbahaya berupa sertifikat penyuluhan IRT.

Ahli gizi AA Mirah Adi dan dosen Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Denpasar, Ida Ayu Eka Padmiari, SKM., M.Kes. mengatakan, tetap ada penggunaan BTP pada makanan hingga 2008, kendati pengawasan terus dilakukan.

Fakta produksi pangan olahan untuk tujuan komersial penggunaan bahan tambahan kimia sebagai bahan pengawet tidak mungkin dihindari, terutama industri makanan skala rumah tangga. Makanan makin enak biasanya ditambah dengan bahan tambahan makanan (BTM). *dik

WASPADA-Masyarakat yang gemar jajan makanan maupun minuman harus makin waspada dalam mengkonsumsi penganan, terutama jajanan yang biasa dijajakan di pinggir jalan maupun jajanan anak sekolah, karena tidak menutup kemungkinan masih mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya.

Hasil Pengujian Sampel Jajanan Sekolah 2007

No Jenis Jml Sampel Hasil Ket TMS
MS TMS
1 Minuman Merah 26 14 12 Rodamin B= 2, ALT=11, MPN coliform = 9
2 Syrup, Jelly,Agar-agar 15 15 0 -
3 Es (es mambo,lollipop, es lilin) 27 1 26 Rodamin B= 24, ALT=25, MPN coliform = 24
4 Mie 23 19 4 Boraks 2 dan ALT = 2
5 Bakso 28 16 12 Formalin = 2 dan ALT= 12
6 Snack (bakwan, tahu isi, camilan) 49 43 6 Boraks 5 dan ALT = 2
JML TOTAL 168 108 60

Hasil Pengujian Sampel Jajanan Sekolah hingga Juli 2008

No Jenis Jml Sampel Hasil Ket TMS
MS TMS

1 Minuman Merah 29 22 7 ALT, MPN, E-coli
2 Syrup, Jelly,Agar-agar 5 5 0 -
3 Es (es mambo,lollipop, es lilin) 17 10 7 ALT,MPN
4 Mie 30 19 11 ALT, MPN, E-coli
5 Bakso 6 4 2 ALT, MPN, E-coli
6 Snack (bakwan, tahu isi, camilan)

45 44 1 ALT, Sakarin
7 Kudapan 27 17 10 ALT,MPN, Boraks
JML TOTAL 159 121 38

Ket: MS = memenuhi syarat
TMS = tidak memenuhi syarat


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost