
Makanan
maupun minuman yang beredar di pasaran, tidak sedikit yang
masih mengandung zat yang dapat membahayakan tubuh manusia,
seperti zat pewarna tekstil, pemanis buatan, formalin, boraks
dan bahan berbahaya lainnya. Kenapa bisa terjadi?
Sengajakah atau betul-betul karena tidak tahu? Berikut penelusuran
BisnisBali.
SEJATINYA dinas terkait seperti BBPOM,
Dinas Kesehatan, Disperindag sudah rutin melakukan sidak,
pengawasan, dan pembinaan terhadap industri rumah tangga
(IRT). Namun, makanan dengan zat berbahaya tetap saja ditemukan
di masyarakat.
Karenanya, warga yang gemar jajan makanan maupun minuman,
mungkin perlu berhati-hati dan waspada dalam mengkonsumsi
penganan yang dibeli dari pengusaha kecil maupun menengah,
terutama jajanan yang biasa dijajakan di pinggir jalan maupun
jajanan anak sekolah. Tidak menutup kemungkinan, makanan
tersebut masih mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang
berbahaya.
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan BBPOM Bali terhadap
168 sampel jajanan sekolah pada 2007, 60 produk makanan
masih mengandung BTP seperti rodamin B (pewarna merah),
zat warna yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya.
Tidak hanya itu, pada sampel makanan tersebut juga ditemukan
borak pada mi dan snack (bakwan, tahu isi, camilan), formalin
pada bakso dan terbanyak adalah bakteri ALT, dan MPN coliform.
Berdasarkan pengujian terhadap 159 sampel jajanan sekolah
hingga Juli 2008, kendati tidak menemukan BTP, tetap saja
38 produk masih mengandung bakteri. Ini membuktikan makanan
yang beredar di pasaran belum layak konsumsi.
Bahaya Besar
Masih beredarnya panganan mengandung zat berbahaya di masyarakat,
merupakan potensi bahaya besar bagi kesehatan masyarakat.
Ini bisa berdampak pada gangguan pertumbuhan generasi muda
akibat penumpukan zat berbahaya dalam tubuhnya yang bertentangan
dengan PP No.28 tahun 2004 tentang keamanan mutu dan gizi
pangan. Secara ekonomis, hal ini juga sangat merugikan kemampuan
daya saing pelaku usaha itu sendiri.
Tidak ditemukannya BTP dalam sampel makanan yang diuji,
bukan berarti penggunaan BTP benar-benar tidak dilakukan
IRT nakal. Makanan dan minuman dengan warna cerah, cita
rasa kuat MSG, dapat bertahan lama masih banyak kita temui
di pasaran. Bedanya praktik penipuan ini lebih rapi dilakukan
sehingga sangat sulit membedakannya.
Seperti diakui Jemy Selfiana, FBM salah satu restoran di
Sanur. Penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih
ada yang menggunakan. Misalnya, warna merah sumba pada insang
ikan agar terlihat segar, warna merah pada semangka agar
terlihat menarik, warna merah pada daging hingga pewarna
pada jajanan maupun minuman pasar yang cerah dan menggugah
selera.
Tidak hanya, ada pula penggunaan pemanis buatan agar buah
terasa manis. “Secara sepintas memang sulit membedakan,
tetapi diperhatikan secara seksama akan terlihat perbedaan
tersebut,” paparnya.
Masih adanya BTP pada makanan juga diakui Kadis Kesehatan
Denpasar dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes. Masih relatif rendahnya
pengetahuan para pelaku usaha kecil dan menengah terhadap
kesehatan makanan, menyebabkan produk yang dihasilkan rentan
tercemar bakteri, dan produk yang beredar di masyarakat
pun kerap ada yang mengandung bahan berbahaya seperti zat
pewarna tekstil, pemanis buatan, formalin, boraks dan bahan
berbahaya lainnya.
Guna membatasi pemakaian zat pewarna dengan mempersulit
pembeliannya juga dirasakan sulit, karena zat pewarna tersebut
sangat mudah diperoleh di pasaran.
Belum lagi sentra pembuatan makanan dan minuman tersebut
tidak pernah menetap, jadi satu dengan rumah kos-kosan,
terpencil dari rumah penduduk, tidak memiliki izin, sehingga
sulit bagi petugas sanitasi maupun puskesmas untuk melakukan
sidak, pengawasan maupun pembinaan.
Solusinya, kata Armini, adalah dengan memberikan stiker
kepada para pedagang bahwa barang dagangannya telah bebas
dari kandung zat berbahaya berupa sertifikat penyuluhan
IRT.
Ahli gizi AA Mirah Adi dan dosen Jurusan Gizi Politeknik
Kesehatan Denpasar, Ida Ayu Eka Padmiari, SKM., M.Kes. mengatakan,
tetap ada penggunaan BTP pada makanan hingga 2008, kendati
pengawasan terus dilakukan.
Fakta produksi pangan olahan untuk tujuan komersial penggunaan
bahan tambahan kimia sebagai bahan pengawet tidak mungkin
dihindari, terutama industri makanan skala rumah tangga.
Makanan makin enak biasanya ditambah dengan bahan tambahan
makanan (BTM). *dik
WASPADA-Masyarakat yang gemar jajan makanan
maupun minuman harus makin waspada dalam mengkonsumsi penganan,
terutama jajanan yang biasa dijajakan di pinggir jalan maupun
jajanan anak sekolah, karena tidak menutup kemungkinan masih
mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya.
Hasil Pengujian Sampel Jajanan Sekolah 2007
No Jenis Jml Sampel Hasil Ket TMS
MS TMS
1 Minuman Merah 26 14 12 Rodamin B= 2, ALT=11, MPN coliform
= 9
2 Syrup, Jelly,Agar-agar 15 15 0 -
3 Es (es mambo,lollipop, es lilin) 27 1 26 Rodamin B= 24,
ALT=25, MPN coliform = 24
4 Mie 23 19 4 Boraks 2 dan ALT = 2
5 Bakso 28 16 12 Formalin = 2 dan ALT= 12
6 Snack (bakwan, tahu isi, camilan) 49 43 6 Boraks 5 dan
ALT = 2
JML TOTAL 168 108 60
Hasil Pengujian Sampel Jajanan Sekolah hingga Juli
2008
No Jenis Jml Sampel Hasil Ket TMS
MS TMS
1 Minuman Merah 29 22 7 ALT, MPN, E-coli
2 Syrup, Jelly,Agar-agar 5 5 0 -
3 Es (es mambo,lollipop, es lilin) 17 10 7 ALT,MPN
4 Mie 30 19 11 ALT, MPN, E-coli
5 Bakso 6 4 2 ALT, MPN, E-coli
6 Snack (bakwan, tahu isi, camilan)
45 44 1 ALT, Sakarin
7 Kudapan 27 17 10 ALT,MPN, Boraks
JML TOTAL 159 121 38
Ket: MS = memenuhi syarat
TMS = tidak memenuhi syarat