24 Maret 2008  
Home
Berita Terkini

 

Ekonomi Dunia Diprediksi Melambat
Jakarta (BisnisBali) –Para gubernur bank sentral Asia Tenggara (South East Asian Central Banks/Seacen) memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dalam beberapa waktu ke depan.

Siaran pers Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Sabtu (22/3) lalu menyebutkan, perkiraan tersebut disampaikan para gubernur bank sentral dalam konperensi Gubernur Seacen ke-43 dan pertemuan Dewan Gubernur Seacen ke-27 yang berlangsung di Gedung BI, Jakarta, 21-22 Maret 2007.

Para gubernur Seacen menilai, pelambatan pertumbuhan ekonomi AS akan makin tajam seiring berlanjutnya krisis sub-prime di negara tersebut. Di wilayah Uni Eropa, pelambatan ekonomi juga terjadi meski dalam laju yang moderat. Perkiraan tersebut juga diikuti prospek inflasi yang lebih tinggi.

Sementara, di kawasan Asia, meski terimbas krisis keuangan AS dan peningkatan risiko perekonomian global, dampaknya diperkirakan dapat diredam permintaan domestik yang kuat dan peningkatan perdagangan antarnegara di Asia.

Selain itu, para gubernur tersebut juga berpendapat, risiko ekses likuiditas dan kompleksitas yang berlebihan, jika inisiatif pendalaman sektor keuangan tanpa disertai kerangka kerja pengawasan yang memadai dan pengaturan yang kuat.

Pendalaman sektor keuangan harus dilakukan dengan urutan langkah yang tepat. Para gubernur juga sepakat cakupan pengawasan harus ditingkatkan termasuk implementasi Basel II, penguatan-penguatan di berbagai bidang serta pengawasan secara terkonsolidasi.

Menyangkut peran Dana Moneter Internasional (IMF), para gubernur mencatat, perlunya IMF melanjutkan perbaikan dalam menjalankan fungsi pengawasannya agar dapat menjawab tantangan perekonomian global yang muncul akhir-akhir ini.

Sementara itu, dalam pidato pembukaannya, Menko Perekonomian Boediono menguraikan, keterkaitan antara pendalaman sektor keuangan, pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Ia mengatakan, sistem keuangan yang kuat dan efisien akan meningkatkan tabungan dan investasi nasional, efisiensi sumber daya, dan diversifikasi rasio.

Selanjutnya, akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang serta membangun upaya pengentasan kemiskinan. Acara konperensi dan pertemuan yang dipimpin Gubernur BI Burhanuddin Abdullah diikuti para gubernur dan perwakilan dari 16 anggota Seacen dan dua bank sentral sebagai pengamat.

Keanggotaan Seacen meliputi bank sentral di Brunei Darussalam (Kementerian Keuangan), Kamboja (National Bank of Cambodia), Fiji (Reserve Bank of Fiji), Indonesia (Bank Indonesia), Korea (The Bank of Korea), Malaysia (Bank Negara Malaysia), dan Papua New Guinea (Bank of Papua New Guinea).

Selain itu, Filipina (Bangko Sentralng Pilipinas), Singapura (Monetary Authority of Singapore), Srilanka (Central Bank of Srilanka), Taiwan (Central Bank of The Republic of China), Thailand (Bank of Thailand), dan Vietnam (State Bank of Vietnam).

Dua negara yang berstatus pengamat adalah Laos (Bank of Lao PDR), dan Tonga (National Reserve Bank of Tonga). *ant

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost