Jakarta (BisnisBali) –Para gubernur bank sentral
Asia Tenggara (South East Asian Central Banks/Seacen) memperkirakan
pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dalam beberapa waktu
ke depan.
Siaran pers Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Sabtu (22/3) lalu
menyebutkan, perkiraan tersebut disampaikan para gubernur
bank sentral dalam konperensi Gubernur Seacen ke-43 dan pertemuan
Dewan Gubernur Seacen ke-27 yang berlangsung di Gedung BI,
Jakarta, 21-22 Maret 2007.
Para gubernur Seacen menilai, pelambatan pertumbuhan ekonomi
AS akan makin tajam seiring berlanjutnya krisis sub-prime
di negara tersebut. Di wilayah Uni Eropa, pelambatan ekonomi
juga terjadi meski dalam laju yang moderat. Perkiraan tersebut
juga diikuti prospek inflasi yang lebih tinggi.
Sementara, di kawasan Asia, meski terimbas krisis keuangan
AS dan peningkatan risiko perekonomian global, dampaknya diperkirakan
dapat diredam permintaan domestik yang kuat dan peningkatan
perdagangan antarnegara di Asia.
Selain itu, para gubernur tersebut juga berpendapat, risiko
ekses likuiditas dan kompleksitas yang berlebihan, jika inisiatif
pendalaman sektor keuangan tanpa disertai kerangka kerja pengawasan
yang memadai dan pengaturan yang kuat.
Pendalaman sektor keuangan harus dilakukan dengan urutan langkah
yang tepat. Para gubernur juga sepakat cakupan pengawasan
harus ditingkatkan termasuk implementasi Basel II, penguatan-penguatan
di berbagai bidang serta pengawasan secara terkonsolidasi.
Menyangkut peran Dana Moneter Internasional (IMF), para gubernur
mencatat, perlunya IMF melanjutkan perbaikan dalam menjalankan
fungsi pengawasannya agar dapat menjawab tantangan perekonomian
global yang muncul akhir-akhir ini.
Sementara itu, dalam pidato pembukaannya, Menko Perekonomian
Boediono menguraikan, keterkaitan antara pendalaman sektor
keuangan, pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Ia mengatakan, sistem keuangan yang kuat dan efisien akan
meningkatkan tabungan dan investasi nasional, efisiensi sumber
daya, dan diversifikasi rasio.
Selanjutnya, akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka
panjang serta membangun upaya pengentasan kemiskinan. Acara
konperensi dan pertemuan yang dipimpin Gubernur BI Burhanuddin
Abdullah diikuti para gubernur dan perwakilan dari 16 anggota
Seacen dan dua bank sentral sebagai pengamat.
Keanggotaan Seacen meliputi bank sentral di Brunei Darussalam
(Kementerian Keuangan), Kamboja (National Bank of Cambodia),
Fiji (Reserve Bank of Fiji), Indonesia (Bank Indonesia), Korea
(The Bank of Korea), Malaysia (Bank Negara Malaysia), dan
Papua New Guinea (Bank of Papua New Guinea).
Selain itu, Filipina (Bangko Sentralng Pilipinas), Singapura
(Monetary Authority of Singapore), Srilanka (Central Bank
of Srilanka), Taiwan (Central Bank of The Republic of China),
Thailand (Bank of Thailand), dan Vietnam (State Bank of Vietnam).
Dua negara yang berstatus pengamat adalah Laos (Bank of Lao
PDR), dan Tonga (National Reserve Bank of Tonga). *ant