Jakarta (BisnisBali) –Pemerintah harus segera
merumuskan kebijakan strategis bidang pertanian yang sesuai
dengan kebutuhan pasar industri dan ekspor namun tetap mengutamakan
pasar konsumen domestik.
"Kami menyarankan agar segera dilakukan perumusan strategis
untuk memenuhi pasar hasil pertanian di tiga jenis pasar besar,
pertama pasar konsumen domestik, pasar industri, dan pasar
ekpor.
Masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda meski saling
berkaitan," kata Presiden Direktur PT Heinz ABC Indonesia,
Nilesh Patel, dalam diskusi "Tantangan Agribisnis Indonesia
di Era Pasar Global", di Jakarta, Sabtu (22/3) lalu.
Sebelumnya, pemerintah harus menentukan produk unggulan Indonesia
yang bisa menyaingi produk serupa di negara lain. Patel mencontohkan
Prancis yang fokus dalam pengembangan anggur, Brazil dengan
tebu untuk bioetanol, serta Israel dengan pertanian jeruk
di padang pasirnya.
"Sumber daya alam dan iklim yang sangat bersahabat juga
harus diperhitungkan sebagai sebuah potensi keunggulan komparatif.
Saat ini, belum terlihat usaha sungguh-sungguh yang terpadu
dari Indonesia untuk menentukan potensi mana yang akan dijadikan
fokus pengembangan sehingga semua pihak bergerak mendukung
jenis potensi tersebut," jelas Patel.
Selain itu, lanjut Patel, harus ada pemetaan potensi produk
unggulan dan wilayah geografis yang sesuai untuk pengembangannya.
Data pemetaan yang tersedia secara transparan bagi semua pihak
yang ingin berinvestasi.
"Tentunya jaminan keamanan dan peraturan yang tidak berubah-ubah
untuk berinvestasi, rangsangan insentif untuk pembukaan daerah
baru dan birokrasi yang tidak berbelit juga berperan dalam
keberhasilan investasi," tambahnya.
Patel mengingatkan, kebutuhan pangan konsumen pasar domestik
harus menempati prioritas tertinggi. Karena itu, pemerintah
harus memiliki kebijakan yang tegas terkait pemenuhan kebutuhan
dalam negeri.
"Misalnya CPO dipakai di ketiga jenis pasar tersebut.
Di sinilah kebijakan yang tegas dari pemerintah sangat diperlukan.
Kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas kesehatan
sumber daya manusia Indonesia melalui pangan dan nutrisi,"
paparnya.
Ia mencontohkan pemerintah Argentina yang langsung memberlakukan
larangan ekspor susu ketika harga bahan baku susu dunia melonjak
untuk mengamankan harga di pasar domestik dan kebutuhan nutrisi
masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, pengamat ekonomi, Didiek J. Racbini
mengatakan, pemerintah harus bisa mengamankan pasokan dan
harga pangan di dalam negeri dari pengaruh kenaikan harga
komoditi dunia.
Salah satu langkah yang dapat diambil pemerintah, menurut
Didiek, adalah dengan menerapkan pungutan ekspor (PE) sekaligus
penerapan wajib pasok dalam negeri (DMO).
Tantangan paling besar yang dihadapi Indonesia adalah pada
sisi produksi mengingat Indonesia masih belum dapat memenuhi
kebutuhan dalam negeri tanpa impor.
"Impor merupakan langkah terakhir yang bisa dilakukan
pemerintah," ujar Didiek. *ant