06 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Permintaan Tinggi, Harga Kayu Lokal Melonjak
Gianyar (BisnisBali) –Mahal dan sulitnya memperoleh kayu jenis kamper, kruing dan meranti yang umumnya didatangkan dari luar Bali, membuat kayu lokal makin diminati. Bahkan, akibat makin ramainya permintaan aneka kayu lokal, harga jualnya terus melonjak.

Kualitas dan pemanfaatan kayu lokal untuk pembangunan rumah pribadi dan lain-lain, tidak diragukan lagi. Agus, pedagang aneka jenis kayu lokal asal Kintamani Bangli yang membuka toko di Banjar Kutri Singapadu, Selasa (5/2) kemarin mengatakan, jenis kayu lokal seperti gintungan, albesia dan bayur sekarang ini cukup banyak peredarannya sekaligus dibeli konsumen.

Semua jenis kayu lokal ini sudah diakui kualitasnya dan tidak kalah jauh dengan jenis kayu industri. Hanya saja, pohon kayu lokal tersebut jumlahnya tidak begitu banyak, yang selama ini sebagian besar ada di daerah pegunungan.

Ia menambahkan, kayu teep kini dijual Rp 1,5 juta lebih per m3. Kayu gintungan dijual Rp 1,6 juta lebih per m3 dan kayu bayur seharga Rp 1,7 juta lebih per m3.

Sementara kayu albesia dijual Rp 1,2 juta lebih per m3. Dari keempat jenis kayu yang diperjualbelikan itu, semuanya laku keras di pasaran sampai 60 m3 per bulan. Permintaan yang paling banyak datang dari pengembang perumahan yang ada di daerah ini.

“Kualitas kayu lokal tidak diragukan lagi. Hanya saja, jumlahnya yang masih terbatas. Mengingat, keberadaan jenis kayu itu hanya berada di daerah pegunungan,” katanya.

Ia mengungkapkan, selain bentuk usuk, kayu lokal juga banyak dalam bentuk balok. Ukuran balok itu biasanya dimanfaatkan untuk kap bangunan. Kayu lokal pun kini bersaing ketat dengan batang kelapa yang nilai jualnya jauh lebih mahal dibandingkan jenis kayu lokal. Namun, karena kualitas batang kelapa jauh lebih kuat, konsumen pun banyak yang mencarinya. *mur


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost