186 Pedagang Pasar Kumbasari Ikuti ’’Rapid Test’’

Setelah 63 orang pedagang pelataran di Pasar Kumbasari mengikuti tes swab secara bertahap dan terkonfirmasi 22 orang positif Covid-19,

Denpasar (bisnisbali.com) –Setelah 63 orang pedagang pelataran di Pasar Kumbasari mengikuti tes swab secara bertahap dan terkonfirmasi 22 orang positif Covid-19, rapid test juga dilakukan pada Sabtu (13/6) lalu yang menyasar186 pedagang. Hal ini dilakukan, sebagai upaya screening awal untuk percepatan penanganan Covid-19 di Kota Denpasar.

 Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar, IB Kompyang Wiranata saat dikonfirmasi, menjelaskan, rapid test kali ini rencananya dilakukan pada 200 orang pedagang. Namun 14 pedagang Pasar Kumbasari tidak hadir. Dari 186 pedagang yang ikut tes rapid, 7 orang di antaranya diketahui reaktif sedangkan 179 lainnya dinyatakan non reaktif. “Kepada 7 orang itu sudah langsung dilakukan tes swab. Hasilnya minimal lagi 3 hari baru keluar,” tandas Gus Kowi.

Selain pedagang, beberapa pegawai di Pasar Kumbasari, kata Gus Kowi, ikut menjalani tes rapid. “Hari ini disiapkan 200 alat rapid, tapi yang datang cuma 186 orang. Nanti kami akan data kembali siapa yang belum ikut,” ujarnya, Sabtu (13/6) lalu.

 Pihaknya menargetkan, tes ini bisa diselesaikan Senin (15/6) ini yang menyasar semua pedagang pelataran di Pasar Kumbasari. Sehingga pasar malam di pelataran Pasar Kumbasari bisa segera dibuka kembali. Gus Kowi menambahkan untuk saat ini lokasi pedagang yang dinyatakan positif Covid-19, untuk sementara tempatnya akan ditutup selama 14 hari. Sedangkan untuk pedagang bersebelahan pada radius 5 meter akan ditutup hingga hasil swab keluar.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, Dewa Gede Rai mengatakan, pihaknya akan terus agresif dan masif melakukan tracing dan testing terhadap masyarakat yang diduga terpapar virus corona. Upaya ini menurutnya sebagai bagian dari strategi untuk mempercepat penanganan Covid-19.

 “Secara statistik pasti akan kelihatan penambahan kasus secara signifikan, tetapi ini justru akan lebih memudahkan melakukan treatment dari pada OTG tersebut masih bebas beraktivitas. Karena dengan lebih cepat diketahui status kesehatan seseorang yang pernah kontak erat dengan orang positif akan lebih cepat dilakukan tindakan selajutnya seperti, bloking, isolasi dan karantina,” kata Dewa Rai. *wid 

BAGIKAN